Harga Emas Dunia Hari Ini Naik Tipis ke US$ 4.568, Sentimen Konflik Iran dan Dolar AS Jadi Penentu
JAKARTA,sambong.web.id - Harga emas dunia terpantau menguat tipis pada perdagangan awal pekan, Selasa (19/5/2026) pagi. Melemahnya indeks dolar Amerika Serikat (AS) menjadi motor utama penguatan, meski laju kenaikan komoditas logam mulia ini masih tertahan oleh lonjakan imbal hasil obligasi AS dan meroketnya harga minyak global akibat konflik Iran yang kian memanas.
Berdasarkan data pasar Bloomberg pada Selasa (19/5/2026) pagi, harga emas spot berada di level US$ 4.568,21 per ons. Angka tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 1,54 poin atau setara 0,03% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Sehari sebelumnya, pada penutupan perdagangan Senin (18/5/2026), harga emas spot ditutup menguat 0,2% ke posisi US$ 4.548,14 per ons. Di sisi lain, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni justru mengalami koreksi tipis sebesar 0,1% ke level US$ 4.558 per ons.
Dolar AS Melemah Jadi Angin Segar Pasar Logam Mulia
Pendorong utama pergerakan positif harga emas hari ini adalah koreksi nilai tukar dolar AS. Indeks dolar AS merosot sekitar 0,3% terhadap beberapa mata uang utama dunia. Kondisi ini membuat emas menjadi lebih murah bagi para investor yang memegang mata uang non-dolar.
Analis pasar dari American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menjelaskan bahwa penurunan mata uang safe haven tersebut memberi sentimen positif bagi pasar logam mulia.
“Indeks dolar AS turun ke level terendah sesi perdagangan dan itu menjadi elemen positif bagi pasar emas,” ujar Wyckoff.
Yield Obligasi dan Efek Konflik Iran Batasi Laju Emas
Kendati demikian, Wyckoff mengingatkan bahwa kenaikan yield obligasi pemerintah AS masih menjadi penghambat utama penguatan harga emas dalam jangka pendek, bahkan berpotensi memicu tekanan lanjutan.
Saat ini, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun merangkak naik hingga menyentuh level tertinggi sejak Februari 2025. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), emas menjadi kurang menarik bagi investor dibandingkan instrumen investasi berbasis bunga.
Kondisi pasar kian kompleks karena konflik Iran terus mengerek harga energi dunia. Situasi tersebut memicu ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, yang memperbesar peluang bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer).
Di pasar komoditas lain, harga minyak mentah dunia melonjak sekitar 2% ke posisi tertinggi dalam dua pekan terakhir karena kekhawatiran gangguan pasokan global. Sejak ketegangan geopolitik melibatkan AS-Israel melawan Iran pecah pada akhir Februari 2026, harga minyak Brent tercatat sudah melambung hingga 55%.
JPMorgan Pangkas Proyeksi Harga Emas 2026
Melihat dinamika pasar keuangan global serta melemahnya minat investor, sejumlah bank investasi global mulai merevisi turun proyeksi harga emas mereka tahun ini.
Salah satunya adalah JPMorgan yang resmi memangkas proyeksi rata-rata harga emas tahun 2026. Institusi keuangan raksasa tersebut menurunkan estimasi harga emas menjadi US$ 5.243 per ons, dari proyeksi sebelumnya yang berada di level US$ 5.708 per ons.
